Thursday, November 29, 2012

Alvis Saladin, the Green Fox andalan Kostrad.


(Panser Saladin dalam sebuah latihan)

Bicara soal panser Saladin memang bukanlah hal yang baru di kalangan pencinta alutsista militer, pun dengan saya walau telah banyak tulisan yang mengetengahkan panser gaek ini, masih masih senang juga membahasnya.

Bermula Batalyon Kavaleri 7/Panser Khusus (Sersus).

Sejarah keberadaan panser atau kendaraan lapis baja di Indonesia memang bukan hal baru berbagai jenis tank seperti M3 Stuart pernah pula menjadi tulang punggung kekuatan kavaleri Indonesia setelah dilungsurkan dari tangan tentara KNIL, tak hanya itu pabrikan lokal zaman Hindia belanda juga pernah menghasilkan panser made in hindia belanda bernama “overvalwagens” yang hebatnya lagi perusahaan tersebut ternyata dikemudian hari menjadi cikal bakal PT. Pindad.

Kemudian setelah lama berkutat pada masin-mesin perang peninggalan belanda, Indonesia melakukan modernisasi militer pertama, diantaranya memboyong berbagai panser dan tank baik dari barat maupun soviet. Panser Salandin merupakan salah satu darinya, tidak diketahui pasti apa sebab Inggris menggunakan nama Saladin (Salahuddin) dan Saracen (Sarazin) sebagai salah satu infentori panser berpenggerak roda 6x6 pada dekade itu, mungkin saja Inggris ingin terlihat lebih terbuka dengan dunia muslim yang mulai meraih kemerdekaan yang terjadi hampir serempak di belahan Asia dan Afrika termasuk Indonesia dan Timur Tengah kala itu.

Terlepas dari itu, sejak 23 Juli 1962, Indonesia kemudian membentuk Batalyon Kavaleri 7/Panser Khusus (Sersus) Angkatan Darat yang titik tumpu kekuatannya adalah panser-panser Inggris macam Saladin, Saracen dan Ferret. Dalam hikayat Era 1960-an kembali terjadi perubahan dalam tubuh organisasi Korps Kavaleri TNI AD dengan menambah lagi dua batalion Kavaleri yakni seperti Yonkav 8/Tank dan Yonkav 7/Panser (khusus pengamanan ibukota). 

Kedua Yonkav TNI AD diresmikan oleh Menpangad (kini KSAD) Mayjen Ahmad Yani di Tegalega. Dalam perkembangan selanjutnya Yonkav 8 di tempatkan di Pasuruan, Jawa Timur. Sementara Yonkav 7 sebagai satu elemen lapis baja pengamanan ibukota.

Sebetulnya untuk membentuk dua satuan tadi, Korps Kavaleri TNI AD berasal dari hasil gabungan Batalyon Krida Yudha Turangga I dan II. Proses ini dilakukan setelah Operasi Pagar Betis menumpas pemberontak DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat. Yonkav 7 sebetulnya berasal dari kekuatan Yonkav 1, yang sekarang menjadi Satuan lapis baja Divisi I Kostrad. Kekuatan Yonkav 7 tadinya tersebar di beberapa tempat di Ibukota serta Kompi Markasnya di Merdeka Barat. Kemudian karena ada pembangunan Monumen Nasional (Monas), kekuatan utama Yonkav 7 lalu dikumpulkan di Cijantung mulai tahun 1972.

Mengapa panser Saladin dimasa itu ditempat kan di ibu kota? Hal ini sangat mungkin karena panser berpenggerak enam roda ini dianggap lebih ramah di jalan-jalan ibu kota, lagi pula menuvernya cukup gesit sehingga mobilitasnya pun tinggi. 

Tak hanya di kalangan Kodam seperti di Yon Kav/2 Diponegoro dan Yon Kav/10 Hasanudin, panser Saladin dimasa-masa awal Kostrad menjadi trend tersendiri bagi kesatuan pasukan pemukul terbesar Angkatan Darat kala itu. Maka tak heran si rubah hijau ini menjadi andalan penting bagi Kostrad dalam melakukan sejumlah operasi, selain ringkas, cepat, Saladin juga cukup pamungkas didukung oleh canon kaliber 76 mm L5A1, ini menjadikan Saladin layaknya self propelled canon yang siap diturunkan operasi pengamanan. 

Peran Saladin semakin nyata ditahun 60-an terjadi saat menghadapi kegentingan ibu kota, Jendral Soeharto yang kala itu melakukan pemulihan keamanan di Ibu kota menempatkan panser-panser ini menjadi ujung tombak utama meningkatkan daya deternt Kostrad terhadap masyarat, peristiwa yang sama juga terjadi dimasa reformasi 1998, si rubah juga ditempat mengamankan ibu kota mendampingi VAB dan V-150 Commando. 

Upgread lagi kemampuan Panser Saladin, mungkin kah? 

Panser Saladin saat ini masih bertugas dalam lingkup terbatas di wilayah kodam-kodam tertentu selain di ibu kota, tentu saja ferformanya saat ini tak sama seperti dulu. Tak hanya soal usia tapi juga mesin penggeraknya. Seperti yang diketahui Indonesia dimasa orde baru, TNI AD melakukan retrofit besar-besaran terhadap sejumlah panser termasuklah Saladin didalamnya. 

Retrofit itu mencakup pada penggantian dari mesin bensin ke mesin diesel, yakni dengan menggunakan tipe Perkins Phaser Diesel 160T dengan 6 silinder 4 langkah turbocharged. Daya yang dimiliki adalah 160 horse power / 2600 RPM dan torsi 59,23 KGM / 1600 RPM memberikan tenaga yang lebih besar dan pemakaia bahan bakar lebih hemat. Transimis semi otomatis ”Daimler Pre Selective” dengan 5 kecepatan tetap dipertahankan perubahan rasio pada transfer box dari 2,43 menjadi 2,049 mendapatkan variasi kecepatan dan tenaga yang baik.

Performa yang dihasilkan dari Saladin versi retrofit adalah jarak jelajah yang meningkat menjadi 600 Km. Berat tempur meningkat dari 10.900 Kg menjadi 11.600 Kg, namum kecepatan maksimum menurun menjasi 70 Km per jam. Sayangnya kapasitas tanki bahan bakar juga ikut menurun dari 240 liter menjadi 200 liter. Konsumsi bahan bakar dengan kecepatan rata-rata 40 Km per jam yakni 3 liter. Untuk urusan persenjataan tidak ada yang berubah banyak, hanya pada turret terdapat modifikasi persikop khas tank Scorpion. Untuk melaju di medan off road, Saladin kini juga dibekali winch.

beberapa saat yang lalu si rubah hijau masih nongkrong dalam pameran yang diselenggarakan Angkatan Darat disekitar monas, pertanyaan yang sesungguhnya yang menarik adalah, sejauh mana panser ini akan terus dipertahankan? 

Dalam beberapa kasus, Ferret misalnya yang masih terhitung saudara dekat Saladin ini dibeberapa negara di upgred kemampuannya untuk menggotong rudal anti tank Vigilant dan merian tanpa tolak balik, mungkinkah up gread yang sama di lakukan? Menurut saya sejujurnya dengan industri pertahanan indonesia yang tengah bangkit, hal seperti pada dasarnya mungkin saja di lakukan, pindad misalnya dapat menambah body armor komposit untuk memperkuat panser lapis baja yang satu ini, upgred senjata bisa saja dilakukan untuk mengusung rudal anti tank misalnya. Namun tentu saja hal itu terpulang kembali ditangan TNI yang mengambil keputusan tersebut.

Walaupun begitu nampaknya jalan bagi Saladin agar dapat di upgread tidaklah mulus, itu tak lain kerena industri militer dalam negeri sendiri tengah gencar menciptakan panser dan rantis dalam negeri yang berkualifikasi tak saja di bidang nasional tapi juga internasional. Mungkin sekali jika Panser Anoa Canon 20 dan 90 mm, serta Rantis Komodo masuk infentori TNI AD, Panser Saladin sudah selayaknya memasuki masa pensiun yang sesungguhnya. (ZEE)