Minggu, 29 Juli 2012

Hikayat Rudal Perisai Angkasa Indonesia.



(Kartika roket militer awal racikan para ahli Indonesia)

Berbicara mengenai tekhnologi rudal militer, Indonesia sesungguhnya bukan negara baru dalam hal itu, bahkan sejarah bangsa ini merupakan salah satu pengembang rudal militer potensial terbukti Indonesia di tahun 1960-an pernah meluncurkan roket eksperimental kartika sekaligus yang pertama di Asia Tenggara. 

Hikayat Rudal dan Roket militer Indonesia.

Tak ada negara dibelahan bumi selatan ini yang tak mengakui betapa superiornya Indonesia di tahun 1960-an, bahkan Asutralia yang begitu superior di mandala Kalimantan saat perebutan ladang-ladang minyak tahun 1940-an tak berkutik menghadapi gertakan Indonesia yang juga membuat Belanda angkat kaki dari Irian barat.

Salah satu arsenal gahar dimasa itu adalah rudal militer yang memang menjadi prioritas utama angkatan bersenjata Indonesia kala itu. Rudal-rudal militer mutakhir dan memiliki efek deterant tinggi saat itu memang lebih banyak berinduk di kalangan Angkatan Udara dan Angkatan laut Indonesia, sebut saja diantaranya SA-2, Kennel dan Styx yang menjadi momok bagi pihak-pihak yang mencoba mengganggu kedaulatan negara Republik Indonesia ini.

SAM (Surface to Air Missile)-75, misalnya untuk Asia Tenggara hanya Indonesia dan Vietnam yang memilikinya rudal penghancur pesawat tempur ini. rudal-rudal disebar di titik penting memagari ibu kota saat itu. Belum lagi rudal Kennel yang digotong oleh TU-16 membuat bomber legendaris itu ditakuti, pun demikian dengan Styx walau tak sempat digunakan namun efek deteran selepas insiden serangan Angkatan laut India ke panggalan Angkatan Laut pakistan di karachi tahun 70-an menaikan efek gentar bagi Komar Class pengusung rudal bongsor legendaris itu.

Ambisi indonesia untuk memiliki rudal pertahanan yang mumpuni rupanya sempat membuat bulu kuduk pimpinan NATO itu merindik, roket eksperimental Kartika yang diluncurkan di era Ir. Soekarno meneguhkan keinginan Amerika untuk menggusur kepala negara kharismatik asal indonesia itu.

Sampai-sampai sebuah laporan kawat diplomatik menyebutkan bahwa relasi Indonesia –Cina (Sino-Indo) tengah mengembangkan peluru-peluru kendali nuklir yang siap meledak dikawasan Asia tenggara. Tentu saja laporan itu terkesan berlebihan, namun kekhawatiran transper tekhnologi Cina yang mendapat lisensi dari Rusia mau tak mau membuat barat tak mampu menyembunyikan ketakutan atas kemajuan teknologi militer kedepan.

(SAM momok sekutu dimasa lalu)

Faktanya kemampuan militer Indonesia yang khususnya berhubungan dengan rudal memang menjadi andalan kedua matra baik angkatan laut dan udara Indonesia yang dimata pengamat barat lebih pro-Soviet dari pada Angkatan Darat yang dianggap dekat dengan Amerika. Bagi Amerika dan sekutunya, satu-satunya jalan untuk mencegah penguasaan persenjataan tingkat tinggi tersebut adalah melengserkan Bung Karno, hal itu memang terjadi. Setelah era Sukarno berakhir dan digantikan oleh rezim Orde baru, Amerika nampaknya puas dengan perkembangan tersebut. 

Terbukti jauhnya Indonesia dari blok timur seakan memupuskan keinginan memiliki tekhnologi rudal mutakhir yang dapat menggoyang keseimbangan kekuatan milier di Asia Tenggara. Sebagai gantinya Amerika dan sekutunya yang tergabung dalam NATO memberikan pilihan agar indonesia membeli persenjataan dari blok barat yang kapanpun dapat dikontrol melalui kebijakan embargo militer.

Memang benar bahwa dimasa pak Harto LAPAN yang sebagai institusi resmi ujung tombak dari penelitian dan pengembangan rudal militer lebih difokuskan pada pengindraan jauh, namun tak berarti tak ada usaha untuk mengusai teknologi mutakhir tersebut, terbukti dimasa sang Jendral besar itu Indonesia pernah melakukan proyek jangka panjang yang diberi kode “Proyek Menang”, yang dimaksud untuk mengusai tekhnologi roket jangka panjang yang dikerjakan oleh PT. Dirgantara Indonesia yang berhasil menetaskan roket FFAR serta Torpedo untuk kebutuhan Kapal Selam Indonesia, namun tetap saja dibawah pengawasan ketat negara-negara NATO. 

Ambisi lama bersemi kembali 

Bagai membangunkan macan yang tidur, begitulah kiranya sejak sengketa wilayah dan embargo militer yang diterapkan oleh barat berujung pada kembalinya ambisi Indonesi untuk memiliki kekuatan militer yang mumpuni.


(Uji coba peluncuran roket militer Indonesia)

Kali ini LAPAN langsung mengambil alih ujung tombak pengusaaan rudal-rudal jarak jauh masa depan Indonesia ini. Cetak biru roket-roket eksperimental yang lama di rahasiakan dan disimpan oleh LAPAN mulai dikeluarkan dari lemari besinya. Satu demi satu roket-roket tersebut mulai di uji coba dan hasil memang tidak mengecewakan.

Pucuk di cinta ulampun tiba, keinginan mengembangkan roket militer nasional, cikal bakal rudal-rudal besar tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah, khususnya dalam lima tahun belakangan ini. langkah nyata dari Mehan Purnomo yang melobi Cina untuk berbagi ilmu peroketan memang patut diacungi jempol, hanya soal waktu saja Indonesia dan Cina akan memproduksi bersama rudal C-705 yang saat ini banyak bersarang pada kapal-kapal angkatan laut Indonesia. Selain berkiblat ke cina, Indonesia juga melengkapi diri dengan Rudal yakhotn dari Rusia yang disebut-sebut pengamat asing sebagai bagian dari superioritas Angkatan Laut Indonesia.

Di dalam negeri sendiri Indonesia tak kalah genjar menggenjot teknologi rudalnya terbukti beberapa saat yang lalu bangsa ini mulai melansir roket ekperimental R-Han jarak 100 km, belum cukup Asia Tenggara kembali dikejutkan dengan peluncuran roket jarak 400 hingga 500 km, wajar saja roket yang bakal menjadi peluru kendali ini menjadi buah bibir dimasyarakat karena Indonesia sudah memiliki salah satu rudal modern Yakhont yang jaraknya 300 km, artinya ada kemajuan dalam pengembangan roket tersebut dan hanya tinggal menyempurnkan sistem pemandunya saja. Bayangkan saja jika jarak R-Han di lecut sejauh hingga 700 km dan disarangkan pada peluncur bersifat mobil seperti yakhont yang bersarang pada kapal perang Van Spinjk Class, efek deternd nya akan sangat besar sekali.

(C-705, rudal pamungkas anti kapal masa depan TNI AL)

Apakah pengembangan tersebut hanya mimpi? Tentu saja tidak, jalan ke arah tersebut sudah terbuka lebar, transper teknologi roket seperti sistem pemandu, penyempurnaan bahan bakar roket dan sebagainya akan masuk dalam genggaman para ahli roket nasional kita, kita hanya tinggal mengembangkan saja dan menciptakan varian-varian tersebut sesuai kebutuhan militer dalam negeri.

Ambisi memiliki kemampuan rudal-rudal pertahanan tersebut selayaknya tak berhenti pada pengembangan rudal darat ke darat  saja, namun juga harus diarahkan pada pengembangan rudal darat ke udara dan udara-ke udara ( Air to Air) untuk mengisi koleksi arsenal pesawat-pesawat militer kita. Indonesia telah menciptakan bom untuk sukhoi-sukhoi miliknya, sudah selayaknya juga dimbangi dengan persenjataan rudal yang mumpuni. Jika sudah demikian jiran-jiran nakal indonesia akan berpikir berpuluh kali bila ingin mengganggu wilayah kedaulatan Indonesia tercinta ini. (Zee).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar