Sunday, February 9, 2014

KRI Usman – Harun, Yasukuninya Asia Tenggara?


(KRI Usman - Harun, namanya pantas disematkan sebagai salah satu Kapal Perang Indonesia).

Beberapa hari ini, rupanya tensi antara negera bertetangga dekat Indonesia – Singapura rupanya sudah sampai pada titik hangat, memang bukan kali ini saja negeri singa itu berbuat ulah.

Bermula kisah ketika petinggi Singapura melakukan protes tak sedap tentang penamaan KRI baru TNI AL yakni Usman-Harun, nama yang lekat dengan kepahlawanan Marinir Indonesia ini rupanya menjadi momok bagi jiran Indonesia tersebut. Tentu saja saya sebagai orang awampun paham benar bahwa ungkapan protes tersebut sejatinya adalah bentuk penekanan verbal dan intervensi secara tak langsung bagi Indonesia. Singapura sengaja melakukan itu untuk mengetes sikap Indonesia menghadapi protes yang berlatar belakangkan sejarah itu.

Taktik ini bukan kita tak tahu, Singapura ingin mencontoh bagaimana China menekan Jepang atas dasar isu-isu gelap sejarah yang mempengaruhi relasi antara dua negara di Asia Timur itu, China memojokkan Jepang agar negara yang pernah menjadi raksasa dalam sejarah perang fasifik itu dikerdilkan pula dengan sejarah mereka. Karena itu tiap apapun bentuk modernisasi militer Jepang akan disambut tantangan dari jiran mereka seperti China dan duo Korea, hasilnya bisa lihat sendiri, China menjadi raksasa  tanpa ada yang menghalangi program militer mereka.

Australia juga pernah berusaha melakukan hal yang kurang lebih sama dengan menciptakan kesan  Indonesia negara penjajah ketika peristiwa operasi Seroja yang kebetulan sebelum operasi tersebut memang ada wartawan Australia yang tewas di Balibo, makanya dikemudian hari mereka meluncurkan propaganda melalui film “The Balibo Five”, dengan maksud mengasapi hubungan yang terjadi baik antara Indonesia dan Timor Leste. Maaf saja Australia memang tak sudi hubungan baik itu terjalin apalagi setelah mereka menyaksikan sendiri Indonesia dan Timor Lester sepakat menutup kasus 1999 pada tanggal 15 Juli 2008. 

Presiden Xanana Gusmao mengatakan “Kami kini tidak satu negara dengan Indonesia, tapi kami masih berbagi perbatasan, berbagi sejarah, dan warga Timor Leste juga ada yang tinggal, belajar dan bekerja di Indonesia. Kami juga sama-sama bangkit untuk demokrasi dan menempatkan kisah konflik masa lalu di belakang. Timor Leste kini bukan negara jajahan dan Indonesia bukan negara penjajah”.
 
Maka dengan demikian nampaknya Singapura melihat momentum tersebut ketika Indonesia menamakan satu dari tiga KRI kelas “Bung Tomo” itu dengan nama Usman-Harun. Singapura tak rela melihat kekuatan militer Indonesia berkembang, begitupula ekonomi yang menopang perkembangan kekuatan militer itu bebas tanpa terganggu isu sensitive. 

Sama seperti insiden kuil Yasukuni yang selalu menghantui hubungan Jepang dengan negara tetangganya di Asia Timur, Singapura nampaknya juga menginginkan efek yang sama. Taktik ini akan semakin sempurna manakala Malaysia ikut terjerat di dalamnya. Singapura jelas-jelas akan selalu menjadikan KRI Usman-Harun sebagai target, itu artinya negeri singa itu nampaknya akan mengambil langkah “meYasukunikan”, KRI Usman – Harun sehingga apapun kegiatan OMP / OMSP KRI Usman – Harun yang berlaku atau terjadi di wilayah sekitar Selat Malaka akan disambut protes keras, lebih jauh para pucuk pimpinan KRI Usman – Harun bisa saja disorot masuk dalam “daftar hitam” yang dibuat oleh pemerintah Singapura. Tentu saja kita juga harus jeli terhadap taktik macam ini. 

Maaf saja Usman-Harun bukan Teroris !

Usman – Harun masuk daftar teroris yang sengaja di hidupkan kembali oleh petinggi Singapura yang sengaja ditiup-tiupkan kepada generasi mudanya yang sudah mulai melupakan peristiwa pengeboman di hotel MacDonald House pada 10 Maret 1965 tersebut. 

Peristiwa ini sejatinya sudah selesai, bahkan pemimpin Singapura di era pak Harto, Lee Kuan Yew sempat mengunjungi lokasi makan kedua pahlawan negara tersebut. Indonesia secara Gentleman mengakui bahwa keduanya adalah parajurid KKO Marinir yang menjalankan tugas saat perang berkecambuk, karena itu seharusnya keduanya didakwa sebagai tahanan perang bukan sebagai kriminal. Indonesia sudah berputih mata mengusahakan pembebasan kedua insan Marinir yang berani tersebut, hingga akhirnya keduanya pahlawan negara itu pulang tinggal namanya saja. Indonesia sudah menganggap kasus ini sudah selesai. 

Sikap Singapura yang saat ini kembali mempermasalahkan kedua nama besar tersebut jelas sekali menunjukan ketidakdewasaan dalam bertetangga, ada rencana besar yang hendak mereka mainkan dalam isu ini. Indonesia juga banyak dirugikan oleh sikap Singapura, karena itu sikap pemerintah Republik Indonesia  yang secara tegas menolak intervensi Singapura adalah sikap yang pas dan elegan. 

Singapura bagi saya tak perlu mengungkit-ungkit lagi kejadian masa lalu yang sebenarnya sudah khatam masalahnya itu. Bagi kami sudah jelas  Alm. Usman – Harun bukanlah teroris, mereka adalah pahlawan negara yang pantas di kenang, lebih dari itu namanya pantas disematkan pada Kapal perang kebanggaan Republik Indonesia. 

Terakhir, yang perlu pula saya ingatkan – (hingga tulisan ini saya ketik),  KRI Usman - Harun belum secara resmi belum masuk kedalam jajaran armada angkatan perang Indonesia, karena itu potensi usaha operasi klendestin (sabotase) terhadap kapal yang masih berlabuh di Jerman itu cukup besar sekali potensinya. Jika dilihat dari urutan penjemputan, KRI Usman Harun nampaknya di jemput paling akhir dari pada dua koleganya yakni KRI Bung Tomo dan KRI John Lie, karena itu saya kira sudah saatnya perlu penjagaan yang diperketat mengingat sampai saat ini tensi kedua negara bertetangga itu masih akan menghangat. (zee)