Sunday, March 24, 2013

Menyikapi tertundanya Projek KFX Indonesia.


(Pesawat N-219, salah satu projek masa depan Indonesia yang masih harus diwujudkan)

Beberapa saat yang lalu kita disibukan dengan pemberitaan penundaan projek KFX oleh Korea Selatan, tentu saja penundaan ini memberikan dampak psikologis yang tak kecil mengingat hasrat Indonesia untuk memiliki jet tempur pejuang generasi ke lima itu. 

Sejatinya penundaan tersebut haruslah disikapi dengan bijak dan kepala dingin, jangan sampai karena nila setitik rusak susu sebelanga, karena penundaan Projek KFX, maka tertunda pula hasrat memiliki, korvet, kapal selam, helikopter serang Gendiwa, N-219, R-80 dan kendaraan tempur Anoa Canon 20 dan 90 mm dimasa mendatang.

Masih banyak projek masa depan yang harus digarap.

Tentu saja penundaan KFX dapat memberikan dampak yang tak kecil terhadap banyak sekali projek masa depan indonesia, namun penundaan bukan berarti akhir dari projek masa depan pesawat genersi ke lima itu, para ahli yang dikirim sebagai bagian dari Design Center projek KFX juga ketiban durian runtuh berupa cetak biru pengembangan pesawat tempur tersebut, jadi salah besar bila “pengeritik” dari dewan rakyat Indonesia itu mengatakan negeri ini mengalami kerugian, bukankah ilmu yang mahal itu menjadi keuntungan tersendiri mengingat desain bangun pesawat tempur hanya segelintir negara yang bisa memilikinya?!. 

Lagipula bila tenggelam dalam kekesalan terhadap penundaan tersebut tak akan ada habisnya, Indonesia masih punya banyak projek masa depan yang harus direalisasikan misalnya dibidang pertahanan kelautan yaitu mempercepat dan mengawal projek kapal selam dan korvet nasional hasil kerjasama dengan Belanda dan Korsel tersebut, jangan sampai sebuah keputusan politis sepihak membuyarkan apa yang sudah dirintis tersebut.

Hal yang sama juga dibidang dirgantara, projek KFX jelas bukan satu-satunya, ambisi menjadikan Indonesia sebagai kekuatan dirgantara yang diperhitungkan dikawasan, dan ambisi itu sendiri tak akan pernah padam, maka mulailah dengan bidang sudah dikuasai betul, kita masih punya pekerjaan rumah untuk menyelesaikan desain atau purwarupa N-219 dan Gendiwa agar tak hanya sampai pada bentuk prototipe namun juga masuk dalam produksi masal, sehingga apa yang kita mulai tak dianggap sebelah mata baik oleh pengkritik dalam negeri maupun jiran kita diluar sana. Jangan sampai apa yang telah susah payah dimulai hanya berujung pada brosur dan maket saja.

N-219 misalnya, bila diproduksi masal akan dapat menjadi jembatan udara yang memudahkan mobilitas manusia dan barang untuk mewujudkan perkembangan ekonomi dikawasan-kawasan yang belum sepenuhnya terjamah pesawat-pesawat berbadan besar, dengan segala pengalaman yang ada, tak perlu disangsikan lagi kemampuan anak bangsa dalam menciptakan pesawat baling-baling 19 seat tersebut. Lagipula telah lama kita tak menghasilkan lagi desain pesawat buatan rancangan sepenuhnya milik anak negeri. 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kemunculan N-219 akan menjadikan pembuktian bahwa para perancang PT. Dirgantara Indonesia bukan sekedar “tukang pasang skrup” seperti tudingan kawan-kawan negeri jiran, lucunya baru bisa menelorkan wahana terbang tanpa awak saja sudah sesumbar seperti itu, padahal Indonesia 15 tahun lalu sudah menerbangkan pesawat penumpang pertama di Asia Tenggara yang merupakan buatan dalam negeri. 

Lain N-219, lain pula Helikopter serang Gendiwa, kemunculan model dari helikopter ini saja sudah mengguncang kawasan, apalagi bila sudah tercipta, tak ada yang meragukan kemampuan indonesia untuk menciptakan pesawat rotari wing ini, memang beberapa tahun ini PT. Dirgantara Indonesia sudah disibukan dengan berbagai pesanan helikopter oleh masing-masing angkatan dan kepolisian, namun seperti yang sudah diketahuipula sudah lama kita tidak memodernisasi heli serang yang kita miliki, memang sejauah ini  kita memiliki NBO-105 namun sesuai perkembangan zaman ia harus pula digantikan suatu saat nanti, selebihnya kebanyakan yang ita miliki adalah jenis berupa heli serbu, walau sama-sama memperkuat pertahanan negera, heli serang dan heli serbu walau serupa tapi jelas tak sama.

Rencana pemerintah yang mungkin terkendala mendatangkan Super Cobra sejatinya bisa menjadi berkah bagi industri penerbangan dalam negeri untuk mewujudkan rancang bangun Gendiwa, heli serang versi tandem itu, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana industri penerbangan negara sahabat yang berani mewujudkan kemandirian terhadap desain helikopter serang asli miliknya seperti Shahed 285-AH buatan industri penerbangan milik Iran yang telah berdikari dibidang helikopter serang, patut menjadi contoh bagi demi mewujudkan kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

Diluar itu, Indonesia patut bangga bahwa ayah dan anak, BJ. Habibie dan Ilham Habibie kembali memperkuat desain N-250 yang digagalkan secara politik oleh IMF, tekad Ilham Habibie untuk “membangunkan” kembali saudaranya, N-250 yang juga lahir dari buah cinta Habibie-Ainun jelas memberikan warna baru yang akan menggebrak industri rancang bangun dirgantara nasional, N-250 yang akan berubah wujud menjadi R-80 harus didukung oleh banyak pihak termasuk pemerintah dan PT-DI yang akan menjadi mitra strategis mewujudkan ambisi anak bangsa itu.

Dibidang pertahanan  darat kita masih harus mewujudkan kepemilikan panser dalam negeri baik untuk Infantri mekanis maupun untuk kavaleri, tak banyak negera yang mampu mewujudkan hal tersebut, negeri ini beruntung menjadi salah satunya. Kita memang sudah menghasilkan panser anoa yang sampai hari ini terus berevolusi untuk menjadi panser kelas atas, pun demikian kita masih memiliki pekerjaan rumah berupa panser Anoa Canon 20 dan 90 mm yang masih terus diburu untuk diwujudkan, kita masih harus mengawalnya bukan hanya pada desain tapi juga produksi masalnya sehingga kemampuan untuk memodernisasi kavaleri dimasa depan agar menjadi kekuatan darat yang disegani bukanlah isapan jempol belaka.

Dari sini saja kita masih punya tugas, tak ada waktu berleha-leha apalagi bersilang pendapat, baik pemerintah maupun parleman harus memberikan ruang penuh bagi para perancang dan industri pertahanan dalam negeri, ingat TNI kuat rakyat tidur nyeyak, Industri pertahanan yang kuat TNI makin gagah perkasa. Jadi masihkah kita terlena dengan penundaan KFX?.  (zee)

No comments:

Post a Comment